Jangan Jualan di tiktok

Pernah nggak sih, lagi asik scrolling TikTok, terus muncul video orang teriak-teriak “Beli sekarang, diskon 50%!”? Apa yang Anda lakukan? Kemungkinan besar, jempol Anda langsung melakukan gerakan otomatis: swipe. Selamat, Anda baru saja memvalidasi kenapa strategi hard selling di TikTok itu sudah basi.

Gen Z dan Alpha itu punya “radar” yang sangat peka. Begitu mereka mencium bau-bau “jualan” yang dipaksakan, otak mereka langsung mengaktifkan mode abaikan. Tapi, ironisnya, brand masih saja ngotot pakai pola lama. Padahal, platform ini sudah berubah total fungsinya.

TikTok Bukan Lagi Hiburan, Ini Mesin Pencari Baru

Jangan kaget kalau saya bilang Google lagi panik. Ingat pernyataan eksekutif senior Google beberapa waktu lalu? Mereka mengakui secara terbuka bahwa sekitar 40% generasi muda sekarang lebih milih buka TikTok atau Instagram buat cari makan siang atau info tertentu ketimbang buka Google Maps atau Search.

Artinya apa? Anak muda zaman sekarang nggak “googling”, mereka “tiktok-ing”.

Mereka nggak mencari jawaban lewat teks kaku atau artikel SEO yang dioptimasi berlebihan. Mereka mencari bukti. Mereka ingin melihat video yang raw, jujur, dan terasa manusiawi. Kalau brand Anda masih sibuk bikin iklan TV yang dimasukkan ke TikTok, Anda cuma buang-buang uang.

Berhenti Jualan

Berhenti Jualan, Mulailah Menjadi “Google” Versi Video

Kalau mau dilirik Gen Z dan Alpha, Anda harus paham konsep Search Intent. Tanya ke diri sendiri: saat mereka mengetik sesuatu di kolom pencarian TikTok, masalah apa yang mau mereka selesaikan? Mereka nggak peduli produk Anda bagus. Mereka cuma peduli: “Bisa nggak produk ini bikin hidup gue lebih gampang?”

Kalau Anda jualan skincare, jangan cuma bikin video produk terus ditaruh harga. Buatlah video yang menjawab masalah mereka, contohnya: “Kenapa jerawat di dahi nggak hilang-hilang?” atau “Rahasia biar makeup nggak cakey.”

Saat Anda memberikan solusi, Anda sedang masuk ke dalam Search Intent mereka. Anda berubah dari seorang sales yang mengganggu menjadi seorang teman yang memberi saran. Dan di TikTok, kepercayaan adalah mata uang yang nilainya jauh lebih tinggi daripada sekadar klik “beli”.

jangan Jualan

Belajar Strategi yang “Manusiawi”

Masalahnya, banyak yang tahu teorinya, tapi nggak tahu cara eksekusinya. Gimana caranya bikin konten yang dicari orang, tapi nggak kelihatan seperti jualan? Gimana caranya optimasi video biar muncul di pencarian tanpa harus bayar iklan mahal?

Ini adalah skill wajib bagi pemasar modern. Kalau Anda masih merasa strategi digital Anda cuma “ikut-ikutan tren” dan belum berbasis data yang solid, mungkin ini saatnya Anda menata ulang kurikulum belajar Anda.

Bagi teman-teman yang ingin belajar lebih dalam soal digital marketing yang beneran strategis dan didukung oleh ekosistem yang tepat, coba intip website Asosiasi.ai. Di sana, kita bisa bertukar ilmu dengan praktisi yang sudah paham cara kerja ekosistem ini, bukan cuma sekadar ikut tren yang berumur dua hari.

Jadi, Mau Sampai Kapan Jadi “Sales”?

TikTok itu ekosistem yang sangat jujur. Siapa yang memberikan nilai (value), dia yang menang.

Berhentilah memaksa orang untuk membeli. Mulailah bantu mereka menemukan apa yang mereka cari. Karena jujur saja, di dunia digital yang berisik ini, audiens nggak butuh lebih banyak iklan. Mereka butuh solusi.